Wali Kota Appi Siapkan Perwali Aksesibilitas, Makassar Dipacu Jadi Kota Inklusif untuk Semua
MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mewujudkan kota yang inklusif dan ramah bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang standar pembangunan berbasis inklusivitas dan aksesibilitas.
Munafri yang akrab disapa Appi menekankan, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus menjamin keadilan sosial dan akses setara bagi seluruh warga dalam menikmati fasilitas publik.
“Kota Makassar harus menjadi kota yang terbuka untuk semua. Kita ingin memastikan penyandang disabilitas mendapatkan hak yang sama dalam mengakses fasilitas publik. Ini adalah tanggung jawab bersama yang harus kita jalankan secara kolaboratif,” ujar Appi saat menerima audiensi Komisi Nasional Disabilitas bersama Yayasan Kota Kita Surakarta dan sejumlah organisasi penyandang disabilitas di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Selasa (12/5/2026).
Audiensi tersebut membahas penguatan aksesibilitas ruang publik dan taman kota di Makassar. Hadir dalam pertemuan itu Direktur Eksekutif Yayasan Kota Kita Surakarta, Ahmad Rifai, serta Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Andi Bukti Djufrie.
Menurut Appi, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya Dinas Sosial dan Dinas Pekerjaan Umum, wajib menjadikan aksesibilitas sebagai prioritas utama dalam setiap pembangunan fasilitas publik.
“Tidak boleh ada satu pun bangunan di Makassar yang luput dari prinsip inklusif. Aksesibilitas harus menjadi bagian utama sejak tahap perencanaan,” tegasnya.
Ia menyebut awal masa pemerintahannya menjadi momentum strategis untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pembangunan baru maupun infrastruktur yang sudah ada agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Makassar juga mulai melibatkan penyandang disabilitas dalam tim ahli pemerintah kota. Salah satunya dengan menghadirkan figur disabilitas bernama Nadila untuk memberikan perspektif langsung dalam proses penyusunan kebijakan.
“Sudut pandang kita belum tentu sama dengan teman-teman disabilitas. Karena itu, kita butuh perspektif dari dalam agar kebijakan yang lahir benar-benar tepat sasaran,” jelas Ketua DPD II Golkar Makassar tersebut.
Selain pembangunan fisik seperti trotoar dan taman kota, Appi juga menyoroti pentingnya fasilitas pendukung seperti rambu khusus, jalur akses, hingga lift ramah disabilitas di gedung-gedung pelayanan publik.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan organisasi disabilitas dapat melahirkan regulasi yang kuat, komprehensif, dan implementatif.
“Ini harus kita bahas bersama. Kami butuh masukan dari semua pihak agar kebijakan yang lahir benar-benar kuat, aplikatif, dan bisa kita jalankan bersama,” tutupnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Kota Kita Surakarta, Ahmad Rifai, menilai langkah yang dilakukan Pemkot Makassar merupakan bentuk nyata dukungan terhadap visi kota inklusif yang diusung Wali Kota Makassar.
Menurut Rifai, pendekatan pembangunan yang melibatkan langsung penyandang disabilitas menjadi kunci agar fasilitas publik benar-benar dapat diakses seluruh masyarakat.
“Intinya, proyek ini merespons visi besar Pak Wali Kota tentang kota inklusif. Apa yang kami lakukan adalah upaya konkret untuk mendukung itu, dengan memastikan teman-teman disabilitas ikut terlibat dan berkontribusi sehingga kebutuhan mereka masuk dalam kerangka pembangunan kota,” ujarnya.
Ia menambahkan, Perwali yang tengah disusun akan menjadi aturan teknis yang memperkuat implementasi Peraturan Daerah (Perda) Disabilitas yang telah ada sebelumnya.
“Kalau Perda sudah ada, Perwali ini akan lebih menukik pada aspek teknis, terutama akses di ruang publik. Ini penting agar ada koridor aturan yang jelas terkait jaminan aksesibilitas,” katanya.
Rifai juga menilai infrastruktur dasar di Makassar sebenarnya sudah tersedia, seperti trotoar, taman, dan fasilitas umum lainnya. Namun, kualitas serta standar aksesibilitasnya masih perlu ditingkatkan agar benar-benar inklusif bagi semua kalangan.