Di Hadapan Ribuan Peserta Sinode, Frederik Kalalembang Serukan Perang Melawan Judi dan Narkoba
PALOPO – Semangat persatuan, nilai-nilai iman, dan tanggung jawab sosial menjadi pesan kuat yang mengemuka dalam pembukaan Sidang Sinode Am XXVI Gereja Toraja di Luwu Convention Center (LCC), Kota Palopo, Kamis (9/7/2026).
Di tengah kemeriahan budaya dan kekhidmatan ibadah, Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (Purn) Drs. Frederik Kalalembang, mengajak seluruh peserta sidang menjadikan forum lima tahunan tersebut sebagai momentum memperkuat peran gereja dalam menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.
Pembukaan Sidang Sinode Am XXVI ditandai dengan pemukulan gendang secara bersama-sama oleh Ketua Umum Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja, Sekretaris Umum PGI, Anggota DPR RI Irjen Pol (Purn) Drs. Frederik Kalalembang, Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan, anggota DPRD Sulsel, para bupati se-Luwu Raya dan Toraja, Dewan Adat Kedatuan Luwu, Staf Ahli Wali Kota Palopo, Wakapolres Palopo, Dandim 1403 Palopo, Kajari Palopo, serta sejumlah tokoh gereja dan pemangku kepentingan lainnya.
Suasana pembukaan berlangsung semarak namun tetap sakral. Rangkaian ibadah, puji-pujian, musik bambu tradisional, tarian daerah, hingga penampilan paduan suara menghadirkan nuansa spiritual yang menggetarkan ribuan peserta dan tamu undangan yang memadati Luwu Convention Center.
Saat mendapat kesempatan menyampaikan sambutan, Frederik Kalalembang yang akrab disapa JFK langsung mencuri perhatian dengan membuka pidatonya melalui sebuah pantun.
“Indah Alam Bumi Toraja, Palopo jadi Tempat Bersua. Mari Bersidang dengan Penuh Khidmat, Demi Kemajuan Gereja Toraja.”
Pantun tersebut sontak disambut tepuk tangan meriah dan seruan “cakep” dari ribuan peserta yang memenuhi ruang sidang.
Dalam sambutannya, JFK menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum BPS Gereja Toraja, jajaran pengurus, panitia, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan pelaksanaan Sidang Sinode.
“Sangat luar biasa. Apresiasi yang tinggi saya sampaikan. Saya mewakili masyarakat berharap sidang lima hari ke depan mampu menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi kemajuan Gereja Toraja,” ujarnya.
Namun, di balik suasana penuh sukacita itu, Frederik mengingatkan bahwa gereja juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir menjawab berbagai persoalan sosial yang semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, narkoba, perjudian, pergaulan bebas, hingga penyebaran hoaks merupakan ancaman nyata yang harus menjadi perhatian bersama.
Ia mengungkapkan, sehari sebelum pembukaan sidang dirinya sempat berdiskusi panjang dengan Ketua Umum BPS Gereja Toraja terkait sejumlah persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk perdebatan mengenai praktik adu kerbau dalam pelaksanaan adat Rambu Solo’.
“Semalam saya ditelepon Pak Ketua Umum BPS. Kami berdiskusi cukup panjang. Mari kita dudukkan bersama persoalan ini. Kalau ada dugaan perjudian, tentu itu menjadi domain aparat penegak hukum. Gereja tetap memiliki tugas utama melayani umat sebagaimana kita juga melayani warga binaan di lembaga pemasyarakatan,” tegasnya.
JFK juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Ia menegaskan bahwa kepala daerah memiliki fungsi sebagai koordinator Forkopimda sehingga harus mampu membangun koordinasi yang kuat bersama Kapolres, Dandim, dan Kajari.
“Pak Bupati adalah koordinator Forkopimda. Kalau ada persoalan di daerah, jangan belok kiri atau belok kanan. Semua harus dibicarakan bersama agar adat tetap berjalan, tetapi ketertiban dan kepastian hukum juga tetap terjaga,” katanya.
Selain itu, Frederik berharap gereja terus mengedukasi jemaat agar menjauhi narkoba, perjudian, pergaulan bebas, serta penyebaran informasi bohong yang dapat merusak kehidupan bermasyarakat.
Menutup sambutannya, JFK membagikan kisah yang menyentuh tentang tiga anak buah kapal (ABK) asal Toraja yang meninggal dunia di luar negeri, masing-masing di Australia, Jerman, dan Taiwan. Berbekal informasi dari keluarga korban, ia berkoordinasi dengan jaringan kedutaan dan Atase Kepolisian RI hingga akhirnya ketiga jenazah berhasil dipulangkan ke kampung halaman.
“Inilah pentingnya kebersamaan. Jangan sungkan menyampaikan informasi kepada saya. Banyak persoalan masyarakat bisa kita selesaikan jika kita saling peduli dan saling membantu. Semoga Sidang Sinode ini semakin memperkuat komunikasi, persaudaraan, dan rasa tanggung jawab kita kepada sesama,” pungkas Frederik Kalalembang yang kembali disambut tepuk tangan para peserta sidang. (*)