Fenomena Slow Jogging di Korea Selatan: Olahraga Secepat Siput yang Manfaatnya Super Cepat

INFOSULAWESI.COM -- Viral tren berlari lambat atau slow jogging di Korea Selatan. Olahraga yang dilakukan sekecepatan siput ini digandrungi karena tidak menyiksa fisik dan ramah bagi semua usia.

Meskipun dilakukan dengan ritme yang lambat, manfaat yang dihasilkan bagi tubuh berada di "jalur cepat". Latihan ini sangat ramah terhadap sendi karena meminimalkan beban benturan pada lutut dan pergelangan kaki. Kondisi ini membuat slow jogging dinilai aman bagi pemula, lansia, maupun orang yang memiliki persendian lemah.

Di sisi lain, meskipun santai, manfaat biologis yang didapatkan tubuh justru sangat maksimal. Berlari pelan terbukti ampuh melindungi tubuh dari risiko cedera otot dan sendi. Metode konvensional yang memaksakan "tanpa rasa sakit, tidak ada hasil" (no pain, no gain) justru sering kali berakhir dengan cedera parah.

Secara medis, lari lambat membantu membangun daya tahan tubuh jangka panjang karena meningkatkan kapasitas aerobik atau VO2 Max (kemampuan otot menyerap oksigen).

"Berlari dengan ritme lambat akan merangsang pertumbuhan lebih banyak pembuluh darah kapiler baru, sehingga oksigen lebih mudah masuk ke otot. Selain itu, latihan ketahanan ini juga meningkatkan jumlah mitokondria yang berfungsi sebagai pabrik energi bagi otot tubuh," jelas Todd Buckingham, PhD, seorang pelari, atlet triathlon, dan profesor tamu ilmu olahraga di Grand Valley State University kepada Health.

Bagi yang ingin mencoba, metode slow run-walk (lari-jalan) bisa menjadi pilihan terbaik agar detak jantung tetap stabil. Sebagai contoh, seseorang bisa membagi polanya menjadi 4 menit berlari santai diikuti 1 menit berjalan kaki, lalu diulang terus selama 30 menit.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar