Memahami “Play On” dan Protokol VAR: Mengapa Gol Mesir Kedua Dibatalkan?
by: lukman hamarong
Dalam sepak bola modern yang dilengkapi teknologi Video Assistant Referee (VAR), sering kali terjadi momen yang memicu perdebatan sengit, menjurus saling merasa paling benar, tanpa tahu atau memahami aturan Laws of The Game milik FIFA.
Salah satu silang sengkarut yang sampai saat ini masih memicu “keributan” di media sosial adalah insiden dianulirnya gol kedua Mesir ke gawang Argentina saat kedua negara ini bentrok di babak 16 besar Piala Dunia 2026 beberapa waktu yang lalu.
Banyak pihak terburu-buru menuduh wasit “memihak” Argentina. Padahal, jika kita membedah aturan resmi FIFA, keputusan wasit membiarkan permainan tetap berjalan alias play on justru merupakan prosedur yang paling adil dan profesional.
Mengapa wasit tidak langsung meniup peluit saat Lisandro Martinez dilanggar (baju ditarik dan kaki diinjak)? Mengapa harus menunggu gol tercipta lebih dulu baru dibatalkan? Berikut adalah penjelasannya secara regulatif, tanpa bermaksud menggurui:
Pertama: Menjaga keuntungan bagi tim yang menyerang (advantage/play on). Ketika pelanggaran terhadap Lisandro Martinez terjadi, bola justru jatuh dan dikuasai pemain Mesir yang berada dalam posisi sangat menguntungkan untuk mencetak gol.
Dalam situasi krusial seperti ini, wasit yang jeli tidak akan langsung menghentikan permainan. Mengapa? Karena jika wasit langsung meniup peluit saat itu, wasit justru merugikan Mesir. Wasit memberi kesempatan Mesir untuk menuntaskan peluang emas itu.
Jika serangan tersebut gagal atau bola keluar, barulah wasit utama bisa kembali ke pelanggaran awal. Namun, karena prosesnya berlanjut menjadi gol, maka di sinilah peran VAR dimulai. Wasit VAR akan merekomendasikan wasit utama untuk melihat pelanggaran di awal.
Kedua: Protokol VAR hanya mengintervensi momen krusial. Sesuai regulasi FIFA, VAR tidak boleh mengintervensi pelanggaran-pelanggaran kecil di tengah lapangan secara sembarangan. VAR hanya bekerja untuk 4 momen krusial, yaitu proses terjadinya gol/tidak gol, penalti/tidak penalti, kartu merah langsung, dan kKesalahan identifikasi pemain.
Karena insiden pelanggaran terhadap Lisandro Martinez tersebut berada dalam satu rangkaian proses serangan yang menghasilkan gol ke gawang Argentina, maka wasit VAR wajib memeriksa ulang seluruh proses tersebut setelah gol tersebut tercipta.
Ketiga: Mengapa harus menunggu gol dulu baru dibatalkan? Mari kita gunakan logika terbalik. Bayangkan saja jika wasit langsung meniup peluitnya untuk menghentikan pertandingan ketika Lisandro terjatuh karena menduga ada pelanggaran:
Skenario A: Peluang emas Mesir untuk mencetak gol langsung sirna seketika.
Skenario B: Setelah dicek melalui layar monitor, ternyata tarikan baju dan injakan kaki tersebut sangat minim dan tidak dianggap sebagai pelanggaran alias bersih.
Jika ini terjadi, Mesir akan sangat dirugikan karena momentum mencetak gol mereka dirampas oleh peluit wasit yang terburu-buru. Olehnya itu, prosedur standar wasit modern adalah: biarkan permainan selesai sampai fase serangan tuntas (menjadi gol atau keluar), lalu biarkan VAR bekerja di ruang siaran untuk meneliti keabsahannya.
Keadilan tertinggi untuk kedua belah pihak menjadi mutlak. Ketika VAR menunjukkan bukti yang tak terbantahkan bahwa baju Lisandro ditarik dan kakinya diinjak sebelum gol terjadi, maka gol tersebut mutlak harus dibatalkan karena proses awalnya cacat hukum.
Keputusan ini sama sekali bukan bentuk keberpihakan kepada Argentina. Sebaliknya, prosedur ini diterapkan untuk melindungi hak Mesir di awal serangan, sekaligus menegakkan keadilan bagi Argentina di akhir proses. Sepak bola modern menuntut kita untuk memahami regulasi secara utuh, bukan hanya melihat hasil akhir dengan kacamata sentimen dan kebencian. (LHr)