Wali Kota Wenny Gaib Sambut Pengurus PWI Sulut Penuh Kekeluargaan

INFOSULAWESI.com KOTAMOBAGU - Wali Kota Kotamobagu, dr. Wenny Gaib. SpM., menyambut rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara, di Rumah Dinas Wali Kota. Sabtu 27 Juni 2026.

Suasana pagi yang begitu bersaja dan akrab nampak terlihat dari sikap Wali Kota yang menyambut kedatangan para pengurus PWI dengan penuh kekeluargaan.

Wali Kota Wenny Gaib mengenakan kaus berkerah, ia memilih tampil santai bersama seakan tak ada sekat diantara seorang Wali kota dan para wartawan yang datang bersilaturahmi.

Sebelumnya, para tamu telah disuguhi kopi hangat dan makanan ringan di ruang sebelah. 

Namun ketika perbincangan berpindah ke ruang tamu utama, secangkir kopi kembali hadir di atas meja, itu atas permintaa wali kota. 

Mungkin ia ingin pertemuan yang lebih lama, karena sejak salaman pertemuan dengan tamunya, Weny menyambut hangatnya suasana serta obrolan pun mengalir tanpa protokoler yang kaku.

Pertemuan itu dihadiri Ketua PWI Sulawesi Utara, Sintya N.C. Bojoh, didampingi Sekretaris Ardison Kalumata serta Wakil Ketua Vanny Loupatty, yang akrab disapa Mimosa juga beberapa pengurus. 

Di antara canda dan percakapan ringan, sesekali terdengar tawa yang membuat suasana semakin cair. Ada juga beberapa program pemerintah disampaikan.

Ia menceritakan bagaimana memilih prioritas kebijakan ditengah efisiensi anggaran pemerintah.

Lebih dari satu jam pertemuan berlangsung, justru di penghujung perbincangan, muncul sebuah pertanyaan yang melahirkan jawaban paling berkesan pada hari itu.

Sintya melemparkan pertanyaan yang sebenarnya mewakili rasa ingin tahu banyak wartawan.

Terutama setelah Konferensi PWI Kotamobagu sehari sebelumnya menetapkan Koni Balamba sebagai Ketua PWI Kota Kotamobagu periode 2026–2029.

“Apa harapan Wali Kota terhadap PWI Kotamobagu ke depan?” tanya Sintya.

Weny tidak mengeluarkan jawaban yang berkesan agar media mendukung pemerintah atau menjadi tameng saat kritik bermunculan.

Sebaliknya, ia berbicara tentang sesuatu yang kini menjadi tantangan bersama, ditengah derasnya arus informasi lewat platform media sosial.

Menurutnya, masyarakat setiap hari dibanjiri berbagai informasi, mulai dari status pribadi, unggahan komunitas, hingga pesan berantai yang menyebar begitu cepat, dan sering kali tanpa proses verifikasi.

“Tidak sedikit informasi yang akhirnya dipercaya, padahal belum tentu benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Weny.

Di tengah situasi seperti itulah kata Weny, peran media massa justru punya kedududukan semakin penting.

Baginya, produk jurnalistik yang lahir melalui proses peliputan, verifikasi, tetap menjadi rujukan informasi resmi sesuai ketentuan perundang-undangan.

“Kami pemerintah tidak anti kritik. Kami juga bukan ingin dibela kalau ada kritikan yang masuk,” ujar Weny.

Kalimat itu langsung mengubah arah percakapan, seakan ia memberi penegasan bahwa pemerintah tidak selalu ingin dipuji atau dibela.

Karena menurut dia kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari kontrol publik dalam sistem demokrasi.

Namun, yang paling penting adalah masyarakat memperoleh informasi yang utuh, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami juga bukan meminta wartawan untuk membela pemerintah, namun berita dari jurnalis itulah informasi yang resmi,” katanya.

Ucapan tersebut terdengar sederhana, tetapi makna dibalik itu justru muncul di tengah derasnya arus informasi digital.

Weny seakan memberi penegasan bahwa pers tetap menjadi benteng terakhir yang menjaga kebenaran informasi.

Ia berharap PWI Kotamobagu terus menjaga profesionalisme anggotanya sehingga masyarakat tidak kehilangan kepercayaan kepada media.

Menurutnya, kepercayaan itu hanya akan bertahan apabila wartawan tetap memegang teguh prinsip keberimbangan, verifikasi, dan kode etik jurnalistik.

Hubungan pemerintah dengan pers pun, lanjut Weny, tidak boleh dibangun atas dasar kedekatan pribadi ataupun kepentingan sesaat.

“Walaupun mereka ini punya hubungan baik secara pribadi dengan saya,” ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk Koni Balamba.

Baginya, pers tetap harus menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen, sementara pemerintah berkewajiban terbuka terhadap kritik yang membangun.

Yang dibutuhkan adalah komunikasi, saling menghormati peran masing-masing, serta komitmen bersama menjaga ruang publik agar tetap dipenuhi informasi yang benar.

“Silaturahmi seperti ini sangat penting untuk membangun komunikasi yang baik,” kata Weny lagi. 

Ia pun berharap hubungan antara Pemerintah Kota Kotamobagu dan insan pers terus terjalin dengan baik.

Pertemuan pagi itu berakhir seperti dimulai dengan suasana santai dan secangkir kopi yang perlahan mulai dingin.

Ada bekas bagi wartawan, satu pesan dari orang nomor satu di Kotamobagu, setelah ada sesi foto bersama.

Karena di zaman ketika sebuah unggahan media sosial mampu menyebar dalam hitungan detik, harus ada tempat berpijak untuk memastikan mana fakta dan mana sekadar opini. 

Dan menurut Weny Gaib, tempat berpijak itu adalah pers yang bekerja secara profesional, independen, dan bertanggung jawab.

Pesan Wali Kota Kotamobagu itu seakan menyemangati peran wartawan disaat informasi dari media sosial merambah tanpa batas di ruang publik.

Bahwa di balik derasnya arus informasi, masyarakat tetap membutuhkan satu hal yang tidak pernah lekang oleh zaman yaitu kebenaran yang lahir dari kerja jurnalistik yang profesional.*

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar