Catatan Kenangan Bersama Pak Arifin Junaidi: Tak Banyak, tetapi Cukup Berkesan
By: Lukman Hamarong
Kabar duka itu datang melalui pesan singkat WhatsApp. Bahwa Bapak Drs. H. Arifin Junaidi, M.M., telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Ya, beliau wafat setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Kabar duka ini membuat Luwu Utara kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Saat mendengar dan membaca kabar duka tersebut, ingatan saya langsung terlempar jauh ke belakang, menyusuri jejak-jejak waktu saat pertama kali mengenal sosok beliau. Perjalanan saya bersanding dengan linimasa karier birokrasi beliau yang terasa begitu sangat personal.
Pertama kali mengenal beliau pada 2003. Saat itu, beliau menjabat sebagai Kepala Bappeda. Saya sendiri adalah seorang CPNS yang baru saja mencicipi dunia kerja birokrasi. Satu tahun kemudian, 2004, beliau maju di Pilkada 2004. Saat itu, status saya sudah berubah menjadi PNS.
Bertugas sebagai Staf Humas-Protokol, membuat saya menyaksikan dari dekat bagaimana beliau melangkah maju sebagai Calon Wakil Bupati, berpasangan dengan Bapak Luthfi A. Mutty. Waktu terus bergulir. Lima tahun berselang (2010), takdir membawa beliau memimpin daerah ini.
Berpasangan dengan Ibu Indah Putri Indriani, beliau terpilih sebagai Bupati Luwu Utara periode 2010–2015. Namun, roda nasib saya pun berputar. Saat beliau duduk di kursi Bupati, saya justru hijrah ke Dinas Pertanian dan Kelautan sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Hari-hari saya habis di sawah dan ladang, berbaur erat dengan petani. Interaksi langsung dengan beliau sebagai pimpinan daerah pun otomatis berkurang. Saya tak lagi berada di lingkaran humas dan protokol yang selalu mengikuti ke mana Bupati dan Wakil Bupati melangkah.
Meski jarak birokrasi memisahkan, ada satu momen yang tak pernah saya lupakan. Suatu hari, di tengah kesibukannya sebagai Bupati, beliau menyempatkan diri datang ke wilayah binaan saya di Desa Buangin. Beliau hadir meninjau Green House KWT binaan saya dalam Program P2KP.
Momen singkat itu menjadi konfirmasi nyata bagi saya bahwa beliau merupakan pemimpin yang peduli pada hal-hal kecil di akar rumput. Beliau selalu menghargai keringat petani dan kerja keras penyuluh pertanian di lapangan. Beliau acapkali hadir dalam pertemuan dengan PPL.
Dari kejauhan, saya percaya bahwa Pak Arjuna, demikian beliau akrab disapa, adalah orang yang baik dan pemimpin yang tulus. Judul bukunya, "Birokrat Tahan Banting", yang beliau terbitkan, bukan sekadar hiasan sampul, melainkan cerminan dari ketangguhan karakter beliau.
Selamat jalan, Pak Arjuna! Terima kasih atas dedikasi dan kepemimpinan yang telah menginspirasi kami. Semoga segala amal ibadah Bapak diterima di sisi-Nya, diampuni segala khilafnya, dan berpulang dalam keadaan husnul khotimah. Amin yaa Rabbal Alamin. (Lukman Hamarong)