Menguak Sosok di Balik Nama Jalan Ince Nurdin Makassar
Oleh: Ahmad Saransi
Bagi masyarakat Kota Makassar, kawasan Lapangan Karebosi tentu sudah tidak asing lagi. Namun, pernahkah Anda melangkah keluar dari Karebosi, berjalan ke arah selatan menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, lalu menyadari sebuah papan nama jalan di sebelah kanan Anda?
Di sana tertulis: Jalan Ince Nurdin
Berada tepat di tengah hiruk-pikuk pusat kota, nama ini kerap dilewati ribuan kendaraan setiap harinya. Mungkin banyak di antara kita yang bertanya-tanya: Siapa sebenarnya Ince Nurdin? Apa jasa besarnya bagi tanah Daeng hingga namanya diabadikan di tempat se-strategis ini?
Nama lengkapnya adalah Noeroeddin Daeng Magassing, lahir di Makassar pada tahun 1870. Jauh sebelum namanya melekat sebagai nama jalan, ia adalah seorang tokoh pergerakan intelektual yang mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan masa kolonial.
Sebagai seorang guru, ia dikenal memiliki wawasan yang sangat luas, ketelitian yang tinggi, serta kemampuan literasi yang luar biasa dalam bahasa-bahasa lokal. Di era ketika akses terhadap ilmu pengetahuan masih sangat terbatas bagi kaum pribumi, Noeroeddin tampil sebagai pelita, mengasah kecerdasan generasi muda sekaligus merawat akar budayanya sendiri.
Kiprah emas Noeroeddin Daeng Magassing semakin bersinar menjelang pecahnya Perang Dunia II di Sulawesi Selatan. Dedikasi dan kecerdasannya menarik perhatian seorang pakar bahasa kenamaan asal Belanda, Prof. Dr. Anton Abraham Cense. Noeroeddin kemudian diangkat menjadi asisten dan rekan kerja utama (voornaamste medewerker) bagi Prof. Cense.
Kolaborasi ini menjadi kerja sama yang sangat legendaris. Sebagai putra daerah, Noeroeddin memiliki pemahaman mendalam tentang adat istiadat, falsafah, dan seluk-beluk tanah kelahirannya. Ia menjadi jembatan krusial bagi Prof. Cense untuk masuk, memahami, dan meneliti rumpun bahasa serta naskah-naskah kuno yang tersebar di Sulawesi Selatan.
Dari buah pikiran dan kerja keras kolektif inilah, mereka mendirikan Matthes Stichting (Yayasan Matthes). Lembaga inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal terbentuknya Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara sebuah institusi penting yang menyelamatkan banyak warisan peradaban lokal dari kepunahan.
Noeroeddin Daeng Magassing bukan sekadar pemandu jalan bagi peneliti asing; ia adalah seorang pencatat sejarah. Sepanjang hidupnya, ia mewariskan catatan tertulis (Lontara) yang tak ternilai harganya. Sebagian besar karya dan catatan tulisan tangannya digoreskan dengan rapi menggunakan bahasa Bugis dalam guratan aksara Lontara.
Di dalam lembar-lembar kertas tua itu, ia mendokumentasikan kebahasaan, karya sastra, serta berbagai aspek kebudayaan Sulawesi Selatan agar tidak lekang oleh waktu.
Ketika badai Perang Dunia II berkecamuk, Noeroeddin Daeng Magassing mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1943. Ia wafat di tengah pergolakan zaman, namun warisan intelektualnya menolak mati.
Setelah perang usai, pihak keluarga dan ahli warisnya dengan penuh kesadaran menyerahkan seluruh dokumen serta catatan peninggalan berharga tersebut kepada Prof. Dr. A.A. Cense untuk diselamatkan dan terus dipelajari oleh dunia.
Kini, setiap kali Anda melintasi Jalan Ince Nurdin di samping Jalan Jenderal Sudirman, Anda tidak lagi melihatnya sebagai sekadar plang nama jalan. Di balik nama itu, ada jejak seorang guru, seorang penjaga gerbang kebudayaan, dan seorang maestro Lontara yang memastikan bahwa identitas serta jati diri orang Sulawesi Selatan tetap hidup dan dihormati hingga hari ini.