Film Baru Stephen Chow ‘Kung Fu Soccer’ Tuai Kecaman, Diduga Hina Tim Sepak Bola Wanita Korea Selatan
INFOSULAWESI.COM -- Film terbaru garapan aktor dan sutradara legendaris Hong Kong, Stephen Chow, yang berjudul “Kung Fu Soccer“, memicu kontroversi hebat di Korea Selatan. Film komedi yang baru saja dirilis di Tiongkok ini menuai kecaman keras karena dinilai menggambarkan tim sepak bola wanita Korea Selatan dengan stereotipe negatif, kasar, dan tidak jujur.
Kritik tajam salah satunya datang dari Profesor Seo Kyoung-duk, seorang pakar budaya sekaligus akademisi dari Sungshin Women’s University. Ia menegaskan bahwa penggambaran dalam film tersebut telah melewati batas antara humor fiksi dan tindakan tidak menghormati negara tetangga.
“Tidak peduli seberapa fiktifnya sebuah film, adalah tindakan yang keliru untuk berulang kali menghina dunia olahraga Korea,” ujar Profesor Seo Kyoung-duk dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari The Korea Times, Senin 20 Juli 2026.
Sekuel Spiritual ‘Shaolin Soccer’ yang Sukses Besar di Box Office
Film “Kung Fu Soccer” diproduksi sebagai kelanjutan spiritual dari film hit tahun 2001 milik Stephen Chow, “Shaolin Soccer”. Jika film pendahulunya fokus pada tim pria, komedi kali ini menyoroti sekelompok wanita ahli bela diri yang bersatu membentuk tim sepak bola.
Sejak tayang perdana di Tiongkok pada 11 Juli 2026, film ini sebenarnya sukses besar secara komersial. Dalam waktu tiga hari saja, film tersebut berhasil meraup pendapatan box office lebih dari 600 juta yuan (sekitar Rp1,33 triliun atau $84 juta AS). Namun, kesuksesan finansial ini kini dibayangi oleh ketegangan budaya yang dipicu oleh alur ceritanya.
Nama ‘Ewha’ dan Penggambaran yang Dinilai Merendahkan
Gelombang protes dari publik Korea Selatan mulai mencuat sejak cuplikan (trailer) resmi film tersebut dirilis. Fokus kontroversi berpusat pada sebuah adegan yang menampilkan tim sepak bola wanita asal Korea Selatan bernama “Ewha”—sebuah nama yang secara luas diyakini merujuk langsung pada Universitas Wanita Ewha (Ewha Womans University), salah satu institusi pendidikan tinggi paling bergengsi di Seoul.
Dalam film tersebut, para pemain tim Ewha digambarkan lebih terobsesi dengan penampilan, kosmetik, dan lensa kontak warna-warni ketimbang strategi permainan sepak bola itu sendiri. Tidak hanya itu, saat pertandingan berlangsung, mereka diperlihatkan melakukan pelanggaran dan menyerang pemain lawan secara diam-diam. Ironisnya, setelah berbuat curang, mereka berpura-pura menjadi korban demi mengelabui wasit.
Bahkan, terdapat adegan di mana para pemain tersebut berteriak menggunakan bahasa Korea yang terdengar kaku dan canggung, “Wasit, tolong bantu kami!”
Profesor Seo Kyoung-duk menilai elemen-elemen ini sengaja dimasukkan untuk mengolok-olok. “Meskipun film ini mengemas dirinya sebagai komedi beranggaran rendah, mereka bahkan menyisipkan dialog bahasa Korea yang canggung yang hanya mengundang ejekan dan tawa merendahkan,” kritiknya.
Bukan Pertama Kali: Sentimen Anti-Korea Melalui Media Visual
Kasus ini dinilai memperpanjang daftar hitam penggambaran buruk terhadap warga Korea Selatan oleh industri media Tiongkok. Sebelumnya, media pemerintah Tiongkok termasuk CCTV kerap membingkai Korea Selatan secara negatif dengan narasi “pabrik operasi plastik”, menggunakan tren K-beauty sebagai bahan propaganda anti-Korea.
Profesor Seo juga mengingatkan publik pada kasus serupa di tahun 2022. Saat itu, sebuah film bertema seluncur indah trek pendek (short-track skating) yang dirilis Tiongkok selama Olimpiade Musim Dingin Beijing, secara terang-terangan menggambarkan atlet Korea Selatan sebagai orang yang terbiasa berbuat curang.
“Film ini menggambarkan tim yang menyerupai Universitas Wanita Ewha sebagai tim yang mengandalkan taktik kotor dan kecurangan, serta lebih fokus pada penampilan daripada kemampuan atletik. Narasi berulang seperti ini jelas menghina reputasi olahraga kami,” tambah Seo.
Tuntutan Perbaikan Menjelang Rilis Internasional
Mengingat “Kung Fu Soccer” dijadwalkan akan mulai tayang di bioskop-bioskop luar negeri pada Agustus 2026 mendatang, Profesor Seo Kyoung-duk mendesak tim produksi dan sutradara untuk segera mengambil tindakan korektif.
“Kami mendesak para pembuat film untuk memperbaiki penggambaran yang tidak pantas ini dan menahan diri dari menggunakan stereotipe ofensif yang dapat melukai perasaan masyarakat di negara tetangga,” pungkasnya tegas.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Stephen Chow maupun distributor film “Kung Fu Soccer” belum memberikan tanggapan resmi terkait gelombang protes dan tuntutan yang dilayangkan dari Korea Selatan tersebut.