INFO PLUZ, Edisi Rabu, 22 Juli 2026

POLITIK 
1.  Baru sekitar 40 hari duduk di kursi kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang mengundurkan diri dari jabatan tersebut, dengan alasan akan menjalani perawatan jantung di luar negeri. Nanik yang sudah menjadi loyalis Prabowo sejak jelang Pilpres 2014, sebelum menjabat kepala BGN adalah salah satu wakil kepala BGN. 

Ia ditunjuk Prabowo menduduki kursi kepala BGN setelah Dadan Hindayana dicopot dari jabatan tersebut dan sehari kemudian ditahan oleh Kejagung, bersama 2 eks wakil kepala BGN lainnya, yakni Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, dan Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung.

Di hari pertama ditahan Kejagung, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya menulis tangan di secarik kertas yang diunggah di media sosial. Tulisannya berisi ucapan selamat kepada Nanik Deyang sebagai kepala BGN yang baru, sekaligus mengucapkan terima kasih atas pemberian "hadiah indah" kepadanya. 

Secara tersirat, "hadiah" itu adalah status tersangka korupsi dan ditahan Kejagung. Berdasarkan informasi yang beredar, Nanik juga mempunyai beberapa dapur MBG, di antaranya ada di Madiun, Jatim, daerah kelahirannya. Partai Gerindra membantah Nanik mengundurkan diri karena tersangkut korupsi di BGN, tapi murni alasan kesehatan.

2.  Pengganti Nanik Deyang di kursi kepala BGN adalah Sudaryono (41 tahun), salah satu dari "Hambalang Boys" alias beberapa lelaki muda yang berada dalam lingkaran terdekat Presiden Prabowo. Setelah dilantik sebagai kepala BGN, Sudaryono tak lagi menjabat sebagai wakil menteri pertanian. Menurut Mensesneg Prasetyo Hadi, Prabowo memilih Sudaryono karena ia sudah sejak awal terlibat dalam program MBG. 

EKONOMI
1.  Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di 5,75%. Suku bunga deposit facility juga tetap 4,75% dan suku bunga lending facility tetap 6,5%. Keputusan ini berbeda dengan proyeksi mayoritas analis yang memperkirakan BI Rate akan naik 25 bps setelah  kenaikan 100 bps dalam 2 bulan terakhir. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, ditahannya suku bunga acuan ini merupakan bagian dari upaya BI untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, serta mempertahankan inflasi di kisaran 2,5% plus minus 1%.

2.  Menkeu Purbaya melaporkan, APBN hingga Juni 2026 mencatat defisit Rp 196,5 triliun, setara 0,76% terhadap PDB. Pendapatan negara tercatat Rp 1.459,4 triliun, tumbuh 21,4% (yoy), sementara belanja negara sebesar Rp 1.656 triliun, tumbuh 17,8% (yoy). Keseimbangan primer tercatat surplus Rp 85,1 triliun, tumbuh 61% (yoy).

Pendapatan negara dari penerimaan perpajakan tercatat Rp 1.187,8 triliun, ditopang penerimaan pajak Rp 1.035,7 triliun atau tumbuh 24,6%, dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp 145 triliun, tumbuh 3,4%. Lalu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 271 triliun, meningkat 21,6%, serta penerimaan hibah Rp 7 miliar, tumbuh 10,2%.

Dari sisi belanja, belanja pemerintah pusat mendominasi dengan realisasi Rp 1.298,6 triliun, naik 29,4% (yoy), sementara belanja non-K/L Rp 639,7 triliun, meningkat 20%. Transfer ke daerah (TKD) terealisasi Rp 357,4 triliun, tumbuh 11,2%.

3.  Menkeu Purbaya mengonfirmasi penggunaan APBN dalam operasional Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), meski terbatas. APBN, kata dia, digunakan untuk pembayaran gaji pejabat hingga cadangan dana untuk berjaga. Adapun modal awal pembangunan pusat keuangan ini, paling besar akan bersumber dari Danantara. Ia memastikan anggaran yang digunakan tidak besar.

Penggunaan APBN dalam pengembangan PFII, sebelumnya disampaikan Wakil Ketua Komisi XI DPR sekaligus Ketua Panja RUU PFII, Mohamad Hekal. Pembiayaan ini, kata dia, termasuk untuk operasional. Pusat finansial ini nantinya akan memiliki dewan operasional, lembaga pengelola, hingga pengadilan khusus, sehingga dipertimbangkan sumber pendanaan dari APBN.

TRENDING MEDSOS
1.  Nama Sudaryono memuncaki pencarian di Google. Sudaryono hari ini dilantik sebagai Kepala BGN menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri. Mensesneg Prasetyo Hadi memastikan Sudaryono tak akan merangkap jabatan. Sudaryono akan melepas jabatannya sebagai wakil menteri pertanian.

2.  Nama Kuntadi masuk dalam daftar Google Trends. Presiden Prabowo menerbitkan Keppres pengangkatan pejabat utama di Kejagung, termasuk Wakil Jaksa Agung dan Jaksa Agung Muda. Asep Nana Mulyana diangkat menjadi Wakil Jaksa Agung. Sementara Kuntadi menjadi Jampidsus dan Leonard Ebenezer Simanjuntak sebagai Jampidum.

3.  Kata "Kepala BGN", "Sudaryono", dan "Nanik" trending di X, hari ini. Nanik Deyang mengundurkan diri dari kursi Kepala BGN dengan alasan hendak berobat ke luar negeri. Presiden Prabowo menunjuk Wamentan Sudaryono menggantikan Nanik Deyang. Isu Kepala BGN ini juga ramai diperbincangkan di media sosial lain, terutama FB, IG, dan Threads.

HIGHLIGHTS
1.  Ketika menjabat sebagai Wakil Ketua BGN, Nanik Deyang kerap muncul di publik dengan aneka gerak dan komentar perihal MBG. Namanya kondang. Namun, setelah dilantik sebagai kepala BGN pada 8 Juni lalu menggantikan Dadan Hindayana yang masuk tahanan Kejagung, Nanik nyaris tak pernah muncul di publik.

Urusan BGN yang tengah mendapat sorotan tajam publik justru ditangani oleh Agustina Arumsari, Wakil Kepala BGN yang baru, menggantikan Wakil Kepala BGN lama yang mendekam di tahanan bersama Dadan.

Ketidakmunculan Nanik memicu spekulasi, mengingat ada surat terbuka dari Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, yang isinya secara implisit menuding Nanik sebagai pihak yang menjebloskan dia ke tahanan Kejagung. Apalagi berdasarkan informasi yang beredar, Nanik juga ikut mengatur pembagian dapur MBG, termasuk dia sendiri punya beberapa buah dapur.

2.  Angka APBN hingga semester pertama tampak cukup kuat, dengan penerimaan tumbuh tinggi, defisit masih 0,76 persen PDB, dan keseimbangan primer mencatat surplus. Namun ketahanan fiskal tidak hanya ditentukan oleh angka agregat, melainkan oleh kualitas belanja dan kredibilitas institusi yang mengelolanya. Belanja pemerintah pusat tumbuh hampir 30 persen, sementara program besar seperti MBG terus mengalami pergantian pimpinan, dugaan korupsi, dan penyesuaian anggaran. 

Pada saat yang sama, negara kembali membuka komitmen baru melalui PFII yang sebagian operasionalnya akan ditopang APBN dan Danantara, meski manfaat, tata kelola, dan risiko fiskalnya belum sepenuhnya terang. Keputusan BI menahan suku bunga menunjukkan stabilitas rupiah dan inflasi masih harus dijaga dengan hati-hati, tetapi kebijakan moneter tidak dapat terus-menerus menutup kelemahan tata kelola fiskal dan politik. 

Kabar baiknya, pertumbuhan penerimaan dan surplus primer memberi ruang untuk koreksi. Namun ruang itu akan cepat menyempit bila pemerintah terus menambah proyek dan lembaga baru tanpa memastikan kapasitas, transparansi, dan akuntabilitasnya terlebih dahulu.

Terkait

0
0
0

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar