Kembali ke Rumah, Memetik Buah Kebaikan

Kak Aco/Ilham Arief Sirajuddin.

Catatan Perjalanan untuk Kak Aco, Ilham Arief Sirajuddin
Oleh: Arum Spink

Dalam politik, tidak semua perjalanan harus berakhir di tempat yang baru. Ada kalanya, seseorang justru menemukan kedalaman maknanya ketika ia melangkah kembali ke rumah lamanya.

Mengikuti dinamika Musyawarah Daerah Partai Golkar Sulawesi Selatan beberapa hari terakhir, perhatian saya sama sekali tidak tertuju pada puncak acara atau proses aklamasi yang mengantarkan Kak Aco, Ilham Arief Sirajuddin, kembali menakhodai Golkar Sulsel. 

Perhatian saya justru telah terpaut jauh sebelum itu—sejak DPP Partai Golkar menerbitkan diskresi yang membuka jalan baginya. Bagi saya, itu bukan sekadar manuver organisasi, melainkan sebuah peristiwa kemanusiaan: tentang seorang anak zaman yang sedang mengetuk kembali pintu rumah yang pernah membesarkannya. Dan rumah itu, dengan segala memorinya, membukakan pintu lebar-lebar.

Tentu, publik akan membaca peristiwa ini dari berbagai sudut pandang. Ada yang menatapnya sebagai kalkulasi kemenangan politik, ada yang melihatnya sebagai konsolidasi strategi, dan sah-sah saja jika masih ada yang menyimpan nada kritis atas rekam jejaknya. Namun, saya memilih menatapnya dari sudut yang lebih intim: sebagai kisah perjalanan panjang seorang manusia.

Perjalanan itu jelas tidak pernah rata. Ia dipenuhi fase pujian, namun juga tidak sepi dari hempasan kecaman. Ia adalah rekam jejak seseorang yang pernah berdiri di puncak kekuasaan, lalu terhempas, menjalani masa-masa sunyi yang berat, belajar menerima takdir dengan melapangkan dada, hingga akhirnya kembali berdiri tegak dengan keyakinan yang tak pernah padam.

Dalam sebuah siaran langsung di TikTok, saya ingat Kak Aco pernah bercerita bahwa ia banyak belajar setelah masuk "pesantren". Saya paham betul, kalimat itu tidak sedang menunjuk pada sebuah bangunan. Ia sedang berbicara tentang kehidupan. Sebab kehidupan memang sering kali menjadi madrasah paling jujur bagi manusia—tempat kesabaran ditempa, kerendahan hati dibentuk, dan seseorang dipaksa berdialog paling dalam dengan dirinya sendiri.

Mungkin karena tempaan itulah, Kak Aco yang kita lihat hari ini terasa berbeda: lebih tenang, lebih menerima, dan jauh lebih matang.

Saya mengenalnya bukan sekadar sebagai politisi ulung. Buku pertama saya, Di Persimpangan Menuju Tuhan, lahir dan terbit berkat dukungan penuh darinya. Saya tidak sedang memamerkan kedekatan, melainkan ingin memberikan kesaksian bahwa sejak dulu ia adalah pribadi yang tulus menghargai karya orang lain.

Kalimat yang kerap ia ulang di berbagai kesempatan—"Kita ini bukan siapa-siapa kalau tidak punya kawan"—bukanlah jargon pemanis bibir. Ia memandang persahabatan bukan sebagai instrumen transaksi politik, melainkan sebagai jalan untuk memanusiakan manusia. Maka tak heran, ke mana pun ia melangkah, selalu ada hangat pelukan dan derap langkah kawan yang setia berjalan bersamanya, bahkan di saat badai paling kencang menerpa.

Saya juga masih mengingat satu kalimat lain yang begitu melekat dalam dirinya.

"Lakukan saja kebaikan, karena kebaikan akan selalu berbuah kebaikan."

Mungkin bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar sederhana. Namun saya percaya, keyakinan itulah yang membuat seseorang mampu tetap berjalan ketika pujian berganti menjadi cibiran dan tepuk tangan berubah menjadi penghakiman. Tidak semua orang mampu bertahan melewati masa-masa sulit. Tetapi mereka yang tetap memilih menanam kebaikan, biasanya tidak pernah kehilangan harapan bahwa suatu hari nanti kehidupan akan mengembalikannya dalam bentuk yang tak pernah diduga.

Kini, amanah besar itu kembali hinggap di pundaknya. Menakhodai Golkar Sulsel bukanlah pekerjaan ringan. Di hadapannya terbentang kerja-kerja besar: menyatukan kembali energi partai, merawat seluruh kader tanpa sekat, merancang mesin organisasi menuju Pemilu 2029, melahirkan kader-kader baru, serta memastikan Golkar tetap menjadi rumah yang kokoh bagi para kadernya sekaligus mampu menghadirkan gagasan dan kerja nyata yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sulawesi Selatan.

Pengalaman panjang tentu menjadi modal yang sangat berharga. Namun pengalaman saja tidak akan cukup. Kepemimpinan hari ini membutuhkan keteladanan, kemampuan merangkul mereka yang berbeda pandangan, serta keberanian mengambil keputusan yang mungkin tidak selalu menyenangkan semua pihak.

Secara pilihan politik, saya mungkin berdiri di garis yang berbeda dengan Kak Aco. Namun, perbedaan warna partai tidak pernah menjadi alasan bagi saya untuk merawat jarak atau menghentikan doa.

Politik boleh berkontestasi, tetapi persahabatan harus tetap abadi.

Sebab ketika panggung kekuasaan ditutup, yang tersisa dan dikenang jauh lebih lama bukanlah jabatan, melainkan jejak kebaikan kita sebagai sesama manusia.
Selamat mengemban amanah, Kak Aco.

Semoga posisi ini menjadi ruang pengabdian yang semakin luas, bukan sekadar ruang kekuasaan yang menyempit. Semoga setiap pengalaman yang pernah ditempa oleh kehidupan menjadi bekal untuk memimpin dengan lebih arif, lebih rendah hati, dan semakin dekat dengan rakyat.

Saya percaya, tidak semua kebaikan langsung berbuah pada hari ia ditanam. Ada yang harus melewati terik musim kemarau, diguyur hujan, bahkan diterpa badai. Namun ketika ia tetap dipelihara dengan kesabaran, pada waktunya nanti kehidupan akan mengembalikannya kepada sang penanam.

Barangkali inilah yang dimaksud kehidupan: tidak semua kebaikan dibalas seketika. Ada yang harus menunggu musimnya. Dan ketika musim itu tiba, buahnya akan kembali kepada orang yang tidak pernah lelah menanam.

Selamat, Kak Aco. Semoga amanah ini menjadi awal dari lebih banyak kebaikan. 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar