Logo

Angkat BudayaToraja ke Layar Lebar, Sutradara Film Solata Bertemu Frederik Kalalembang Bahas Budaya, Wisata, dan Infrastruktur

Pertemuan hangat antara Sutradara Film Solata Ichwan Persada (kanan) dan Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Demokrat sekaligus Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IkaTNus), Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang (kiri).

JAKARTA — Toraja selalu tampil memukau lewat budaya yang megah, alam yang dramatis, dan keramahan masyarakatnya. Namun di balik keelokannya, daerah ini masih menyimpan catatan panjang mengenai infrastruktur yang tertinggal, akses pendidikan yang terbatas, serta pengelolaan pariwisata yang belum maksimal.

Kontras inilah yang membuat Toraja bukan hanya layak dikagumi, tetapi juga perlu disuarakan. Dari ruang kesenjangan itu, film Solata karya sutradara Ichwan Persada lahir, sebuah upaya memotret Toraja secara jujur dan menggerakkan kepedulian publik untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakatnya.

Pertemuan hangat antara Sutradara Film Solata Ichwan Persada dan Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Demokrat sekaligus Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IkaTNus), Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, berlangsung di salah satu hotel di Kota Wisata Bogor, Kamis (27/11/2025). Sejumlah pengurus IkaTNus turut hadir, menjadikan dialog ini semakin kaya gagasan. Suasana pertemuan berjalan cair dan penuh semangat kolaboratif, membahas bagaimana film dapat menjadi jembatan antara potensi Toraja dan perhatian pemerintah.

Solata Dibuat Untuk Memperkenalkan Toraja

Ichwan yang merupakan putra kelahiran Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa Solata dibuat dari niat memperkenalkan Toraja melalui pendekatan humanis. Ia menyebut bahwa Toraja bukan hanya soal tradisi besar, tetapi juga kisah anak-anak di pedalaman yang belajar di ruang sederhana namun memiliki kecerdasan tinggi, serta kawasan-kawasan indah yang belum tersentuh infrastruktur memadai. Kawasan wisata Ollon menjadi salah satu sorotan utama dalam filmnya, yakni dengan savana luas yang memukau tetapi aksesnya masih begitu sulit.

IMG-20251113-WA0058

Pemeran Angkasa dalam film Solata Rendy Kjaernett foto bersama ibu-ibu PIN dan Ketua Umum IKaTNus Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang yang juga anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Demokrat, usai nobar Film Solata di Cinema XXI Living World Mall, Kota Wisata.

Dalam obrolan tersebut, Ichwan menggambarkan Ollon sebagai simbol kontras Toraja, indah, tetapi belum sepenuhnya terjangkau. Jalan yang rusak, minim fasilitas dasar, dan kehidupan masyarakat yang sederhana menjadi latar emosional film Solata. “Film adalah medium membuka mata. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengingatkan bahwa ada hal besar yang harus kita perbaiki bersama,” ujar Ichwan.

Ichwan Persada juga menyinggung momentum Desember yang selama ini dikenal sebagai Lovely December, yakni festival budaya Toraja yang menjadi ikon daerah. Ia menegaskan bahwa Desember adalah waktu yang kuat secara emosional bagi masyarakat Toraja, sehingga ia berencana menggelar nonton bareng film Solata langsung di Toraja. “Desember itu punya ruh tersendiri. Saya ingin memanfaatkan momentum itu untuk menghadirkan nonton bareng Solata di Toraja, agar masyarakat bisa menyatu dengan cerita film ini,” ujar Ichwan yang merupakan lulusan Sarjana Kedokteran ini.

Ichwan menambahkan bahwa dirinya terinspirasi membuat film ini dari pengalamannya sebagai seorang penonton film dan kebutuhan untuk menceritakan kisah tentang isu sosial. Film ini tidak menampilkan tokoh utama yang sempurna, tetapi seorang manusia biasa yang jatuh dan menemukan kembali dirinya. Melalui Film Solata, ia bertujuan untuk mengangkat nilai-nilai pendidikan, persahabatan, dan makna kehidupan melalui latar budaya Toraja yang kaya.

“Sebelum Membuat Film Solata, saya memiliki pengalaman dalam produksi film dokumenter,” ungkapnya.

Budaya dan Pariwisata Toraja Perlu Diangkat

Frederik Kalalembang menyambut pemikiran itu dengan penuh apresiasi. Menurutnya, Toraja memang harus terus diangkat, baik budayanya, pariwisatanya, maupun kualitas pendidikan masyarakatnya. Ia menilai film Solata hadir di waktu yang tepat sebagai alarm positif bagi pemerintah daerah. “Budaya Toraja itu luar biasa. Pariwisatanya hebat. Tapi kalau jalannya tidak baik, akses terbatas, dan manajemennya lemah, potensinya tidak akan pernah maksimal,” kata Frederik.

IMG-20251113-WA0056

Ketua Umum IKaTNus Irjen Pol (P) Drs Frederik kalalembang dan istri yang menjabat Ketua PIN Christine Frederik Kalalembang menikmati nobar Film Solata di Cinema XXI Living World Mall, Kota Wisata, belum lama ini.

Frederik kemudian menegaskan bahwa film Solata harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk benar-benar fokus membangun pariwisata dan mengembalikan Toraja sebagai salah satu dari 10 destinasi utama di Indonesia. “Pemerintah daerah harus fokus. Kalau memang bisa lima saja pembangunan destinasi wisata per tahun, tidak apa-apa, asal dibangun dengan baik dan serius. Infrastruktur, toilet, jaringan internet, dan juga keramahan warga, itu semua harus diperhatikan,” ujarnya.

Selain pariwisata, Frederik juga menyoroti pentingnya pendidikan di wilayah pedalaman Toraja. Ia mengaku sering bertemu anak-anak Toraja yang pintar, rajin, dan memiliki kemampuan besar jika diberi fasilitas memadai. “Pembangunan wisata dan pendidikan harus berjalan bersama. Kalau akses baik dan sekolah-sekolah kuat, maka pariwisata juga berkembang karena manusianya siap,” tegas Frederik.

Frederik dan IkaTNus menyambut rencana tersebut dengan antusias. Di akhir pertemuan, keduanya sepakat bahwa film, kebijakan publik, dan gerakan komunitas harus berjalan beriringan untuk membangun citra Toraja yang lebih kuat. Film Solata bukan sekadar karya visual, tetapi cermin yang menunjukkan kecantikan dan tantangan Toraja. Pertemuan di Bogor ini menjadi langkah nyata menghubungkan dunia seni dan kebijakan untuk mendorong pembangunan Toraja yang lebih terarah, fokus, dan berkeadilan. (*)